Jumat, 09 September 2011

Tanda-tanda Perempuan Punya Masalah Seks


Disfungsi seksual biasanya identik dengan kaum laki-laki. Padahal gangguan seksual ini juga bisa terjadi pada perempuan. Untuk itu kenali gejala disfungsi seksual pada perempuan.

Disfungsi seksual pada perempuan memang belum terlalu umum, bahkan beberapa diantaranya kadang tidak menyadari bahwa ia memiliki gangguan seksual. Gangguan ini bisa terjadi seumur hidup atau di kemudian hari.

Ada banyak kemungkinan dari gejala dan penyebab disfungsi seksual pada perempuan. Beruntungnya hampir semua masalah tersebut bisa diobati, asalkan ia memahami tubuh dan respons normal dari aktivitas seksual. Serta mau mengkomunikasikan masalah yang dihadapinya.

Kondisi ini bisa terjadi pada usia berapa pun, tapi paling sering terjadi ketika ada fluktuasi hormon misalnya setelah melahirkan atau menjelang menopause dan juga beberapa penyakit seperti kanker dan kardiovaskular.

Seseorang dikatakan memiliki disfungsi seksual bila mengalami 1 atau lebih hal berikut ini, seperti dikutip dari Mayo Clinic, Sabtu (16/7/2011) yaitu:

  1. Rendahnya atau tidak ada keinginan untuk berhubungan seks
  2. Tidak dapat mempertahankan gairah selama aktivitas seksual, atau tidak terangsang meski sedang melakukan hubungan seksual
  3. Tidak bisa mencapai orgasme
  4. Memiliki rasa sakit atau ketakutan yang dalam selama berhubungan seksual.


Hal-hal tersebut bisa menyebabkan ketidakpuasan seksual baik bagi dirinya sendiri atau pun pasangan. Para ahli menuturkan ada beberapa hal yang diketahui bisa menjadi penyebabnya yaitu:


Fisik
Kondisi fisik seperti arthritis, gangguan berkemih, operasi panggul, kelelahan dan masalah neurologis lain bisa berkontribusi terhadap masalah seksual. Serta obat-obatan tertentu bisa mengurangi gairah seks dan kemampuan tubuh mencapai orgasme.


Hormon
Perubahan hormon bisa menyebabkan perubahan dalam jaringan genital dan respons seksual. Lipatan kulit labia menjadi lebih tipis sehingga lebih mengekspos klitoris yang membuat sensitivitasnya berkurang atau mengakibatkan sensasi kesemutan dan rasa seperti tertusuk.


Kondisi ini membuat seseorang perlu lebih banyak stimulasi dan kadang hubungan seksual menjadi menyakitkan sehingga mempengaruhi keinginan untuk berhubungan seks.


Psikologis dan sosial
Kecemasan, depresi atau stres berkepanjangan bisa menyebabkan disfungsi seksual. Karena itu tak ada salahnya untuk saling terbuka dengan pasangan termasuk dalam masalah hubungan seksual.

Kamis, 08 September 2011

Tanya jawab



TANYA :  Dok, saya sudah menikah selama 4 tahun dan hubungan intim dengan istri berjalan lancar.  Namun, ada kalanya sedikit terganggu karena saya kadang mengalami ejakulasi/orgasme lebih dahulu daripada istri sehingga saya merasa bersalah ketika istri belum orgasme sudah harus selesai. Bagaimanakah caranya agar orgasme saya bisa ditunda, menuggu agar istri bisa lebih dulu orgasme. Terima kasih atas jawabannya.Adang, 39, Jakarta.

JAWAB :  Kalau hanya kadang-kadang Anda mengalami orgasme dan ejakulasi lebih cepat, atau lebih dulu dari istri, sebenarnya itu bukan suatu disfungsi seksual. Tetapi kalau itu sering kali atau selalu terjadi, dan mengganggu istri, itu baru merupakan masalah. Inilah yang disebut ejakulasi dini.Untuk mengatasi agar tidak terjadi ejakulasi yang cepat, cara sederhananya ialah  mengurangi atau menghentikan sesaat gerakan ketika melakukan hubungan seksual. Setelah itu dimulai lagi. Tetapi kalau terjadi sering kali, apalagi selalu terjadi (tergolong ejakulasi dini), tentu diperlukan obat untuk mengontrolnya.

Rabu, 07 September 2011

Efek Samping Obat Ini Bisa Bikin Ereksi Tapi Susah Orgasme

Tidak mampu ereksi bukan satu-satunya efek samping yang ditakuti pria dewasa saat mengonsumsi obat. Bisa ereksi tapi tidak bisa orgasme sama-sama menyusahkan, seperti yang dialami beberapa pria saat minum salah satu obat pereda nyeri.

Obat yang dimaksud adalah gabapentin, sejenis pereda nyeri yang digunakan juga untuk mengatasi kejang serta depresi pada penderita gangguan suasana hati. Salah satu efek sampingnya yang sering menimpa pria adalah anorgasmia atau susah orgasme.

Meski sudah lama diketahui, munculnya efek samping tersebut ternyata lebih sering dari yang diduga sebelumnya. Penelitian terbaru yang dilakukan pada ahli saraf di Boston Universitymengungkap, efek tersebut sangat sering menimpa pria khususnya yang sudah lanjut usia.

"Temuan kami, efek samping ini lebih sering dibandingkan yang terungkap dalam uji klinisnya," ungkap salah satu peneliti, Prof Michael D Perloff dalam laporannya di American Journal of Geriatric Pharmacotherapy seperti dikutip dari Indiavison, Minggu (5/6/2011).