Selasa, 06 September 2011

Gairah seksual yang memudar

Gairah seksual yang memudar tak hanya membuat agenda seks hambar, tapi juga sulit mendapatkan orgasme. Untuk kembali menggenjotnya, lakukan beberapa trik ini.

GAIRAH seksual yang memudar tak hanya membuat agenda seks hambar, tapi juga sulit mendapatkan orgasme. Untuk kembali menggenjotnya, lakukan beberapa trik ini.
Meskipun novel atau menonton drama romantis bersama bisa membuat "mood" menjadi baik, tak berarti cara tersebut efektif menyalakan gairah seksual. Pasalnya, beban pekerjaan, kelelahan, mengurus rumah tangga menjadi pemicu kehadiran stres pada pasangan. Jika Anda mengalami hal tersebut, antisipasi saja dengan langkah-langkah ini, seperti dilansir Sheknows.
Sisihkan waktu untuk kencan malam
Jadikan kencan malam ini sebagai pembuka yang bisa menaikkan "mood" Anda berdua. Jika tidak keluar untuk makan makam, Anda bisa menyuntikkan "mood" bercinta dengan mandi bersama agar keintiman fisik tetap terjaga.

Senin, 05 September 2011

Survei: Pria yang Ereksinya Tanggung Lebih Sering Penyakitan

Ereksi yang bagus tidak hanya membuat penis membesar, tapi juga menegang sekeras mungkin. Survei terbaru menunjukkan, pria yang penisnya hanya membesar saat ereksi tapi tidak terlalu keras alias tanggung lebih sering bermasalah dengan kesehatannya.

Kekerasan penis saat ereksi dinyatakan dengan Erection Hardness Score (EHS) yang nilainya berkisar antara 1-4:

EHS 1 digambarkan besar tapi lembek seperti tapai EHS 2 keras tapi masih sulit penetrasi seperti pisang terlalu matang EHS 3 sekeras sosis dan yang paling optimal EHS 4 sekeras timun yang paling optimal.
Menurut hasil Ideal Sex Survei (ISS) yang dilakukan produsen obat kuat Viagra, Pfizer baru-baru ini, pria dengan EHS 3 rata-rata 2 kali lebih sering mengeluhkan kondisi kesehatannya dibanding pria dengan EHS 4. Sepanjanag tahun 2010, pria dengan EHS 3 tercatat 3 kali lebih sering menjalani rawat inap di rumah sakit.

Angkanya tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Survei tersebut mengungkap sebanyak 43 persen pria Indonesia dengan EHS 3 sering mengeluhkan kondisi kesehatannya, lebih banyak dari keluhan serupa dari pria-pria Indonesia dengan EHS 4 yang hanya 19 persen.

Demi Pasangan, Perlukah Orgasme Palsu?


Dalam istilah seks, sering kita dengar kata fake orgasm atau berpura-pura mengalami orgasme, padahal sebenarnya tak merasakannya. Perilaku ini kerap ditunjukkan seseorang saat berhubungan intim dengan maksud menyenangkan atau menambah kepercayaan diri pasangannya.
Fakta membuktikan bahwa orgasme palsu banyak dilakukan kaum hawa demi  menyenangkan pasangannya. Wanita terkadang harus berpura-pura mencapai orgasme, padahal sebenarnya mereka tidak mengalaminya atau bahkan tidak menikmati seks itu sendiri karena berbagai faktor, seperti disfungsi seksual, baik pada pria maupun wanita.
Suatu penelitian menyatakan, orgasme palsu sering dilakukan karena 90 persen wanita  menilai kaum pria tak dapat membedakan orgasme yang palsu dan asli. Wanita juga terpaksa melakukan orgasme palsu supaya tak menyinggung atau mengecewakan pasangannya meski dalam hatinya mereka tidak puas.
Di mata psikolog yang mendalami permasalahan seksual, Zoya Dianaesthika Jusung, MPsi, berpura-pura merasakan orgasme adalah tindakan yang sungguh merugikan, terutama bagi wanita. Dengan orgasme palsu, tujuan mencapai seks yang berkualitas dan memuaskan kedua belah pihak justru makin sulit tercapai.
"Wanita melakukan fake orgasm akan rugi sendiri. Berpura-pura orgasme artinya, selain  menipu dirinya, dia juga telah menipu pasangannya. Banyak wanita yang merasa dengan tidak mengomunikasikan fake orgasm akan menambah kepercayaan diri pasangannya, padahal sebenarnya tidak," ungkap konsultan seks dari Lembaga Penelitian Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, itu.
Kasus orgasme palsu di antaranya sering ditemukan pada wanita yang memiliki pasangan pengidap disfungsi ereksi (DE). Bukan rahasia lagi bila problem ereksi dapat menyebabkan wanita menjadi sulit terpuaskan sehingga, untuk menghindari ketersinggungan saat beraksi di ranjang, tak jarang wanita harus berpura-pura orgasme dan menyimpan rahasia ini dalam hatinya.
Zoya menyarankan, tindakan berpura-pura orgasme sebaiknya dihindari dan diganti dengan pendekatan yang lebih intim melalui komunikasi dan keterbukaan dengan pasangan. Dalam mengomunikasikan perihal seks, baik pria maupun wanita sebaiknya menyampaikannya dengan cara asertif, tidak saling menyinggung atau menyakiti satu sama lain.
"Cara penyampaian yang tidak menyakiti ini sangat penting. Misalnya, jangan sampai (seorang wanita) bilang, 'Ah, kamu jelek sekali atau lemah sekali sih'. Besok-besok, malah (si pria) akan makin lemah," ujarnya.
Supaya sama-sama menemukan kenikmatan dalam seks, pasangan dapat saling membimbing ke arah yang diinginkan dan mengutarakan bagaimana sebaiknya hubungan seks dilakukan. "Misalnya, mengatakan, 'Ok that's right sebelah sini! That's good, keep continue doing this'. Itu akan membantu si pria dan wanita untuk mendapatkan kepuasan," tambahnya.
Ada baiknya pula, setiap pasangan menggunakan masa afterplay atau sesaat setelah aktivitas seks untuk dijadikan kesempatan berkomunikasi. "Saat afterplay dimanfaatkan untuk saling terbuka mengenai pengalaman seksual yang baru terjadi. Dan, bagi para wanita, jangan merasa malu untuk mengungkapkan apa yang dirasakan saat berhubungan dan apakah Anda mencapai orgasme atau tidak," ujarnya.
Ia menegaskan, pada prinsipnya pria dan wanita memiliki hak yang sama dalam mendapat kepuasan dan kenikmatan saat berhubungan seks. Kenikmatan dan kepuasan, lanjut Zoya, sebenarnya memiliki makna berbeda dalam konteks seks.
Kenikmatan atau pleasure biasanya lebih banyak berkaitan dengan hal-hal bersifat fisik dan genital, seperti rangsangan pada bagian tubuh atau titik tertentu, serta posisi dan trik berhubungan. "Sedangkan satisfaction itu banyak menyangkut efek psikologi atau kepuasan-kepuasan pada diri seorang individu. Yang artinya, sesuatu yang melebihi kenikmatan," tandasnya.